PANGANDARAN.JABAROKE.COM – Dalam sebuah ruang belajar yang mempertemukan pemuda dari berbagai daerah, fasilitator memegang peran penting untuk merawat diskusi, menyatukan perspektif, dan membantu gagasan berkembang menjadi inisiatif yang dapat diterapkan di masyarakat. Peran itu dijalankan Akbar dalam program Wirasena Youth Camp 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.
Akbar, yang merupakan alumni program ASEAN Youth United di Thailand, dipercaya mendampingi peserta di ruang kelas 4. Kelompok tersebut terdiri dari pemuda yang berasal dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, serta perwakilan organisasi kepemudaan.
Bagi Akbar, kesempatan menjadi fasilitator dalam program Wirasena Youth Camp 2026 memberinya pengalaman untuk menyaksikan langsung beragam potensi dan harapan pemuda dari berbagai wilayah Indonesia. Ia menilai, kegiatan ini membuka ruang bagi peserta untuk membawa pengalaman, keberanian, serta gagasan dari daerah masing-masing, kemudian mengembangkannya melalui pertukaran pikiran dan kolaborasi.
“Yang aku bisa bilang kegiatan ini sangat luar biasa, berdampak besar. Untuk kita bisa melihat banyak ternyata harapan dari berbagai daerah,” ujar Akbar.
Menyalakan Cahaya hingga ke Daerah
Salah satu hal yang membekas bagi Akbar berasal dari pesan yang disampaikan saat pembekalan fasilitator atau Training of Trainer (ToT). Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan kapasitas pemuda perlu menjangkau berbagai wilayah, bukan hanya terpusat di ibu kota.
“Aku masih ingat banget, ada satu quote ketika kita kemarin TOT, atau Training of Trainer. Ada satu quote yang berbunyi, kita hanya tidak ingin menyalakan lampu di Jakarta. Tapi kita ingin membawa banyak cahaya di daerah di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Pesan itu, menurut Akbar, tercermin dari keberagaman peserta yang datang dari Sumatra, Sulawesi, Papua, Jawa, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Setiap peserta membawa latar belakang serta pengalaman berbeda yang dapat menjadi modal untuk merancang gagasan sesuai kebutuhan daerahnya.
“Aku sangat senang, kenapa? Karena Kemenpora, mungkin baru kali ini menginisiasi proyek sebagus ini. Sebelumnya belum ada yang mengumpulkan anak-anak lewat seleksi ya, untuk datang ke sini, bawa ide, bawa gagasan, keberanian, pengalaman yang mereka punya,” kata Akbar.
Melalui proses tersebut, Wirasena Youth Camp 2026 diharapkan dapat mempertemukan pemuda dengan minat dan kepedulian yang beragam, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang berlanjut setelah program berakhir. Bagi Akbar, keberhasilan kegiatan tidak berhenti pada diskusi selama di kelas, tetapi juga ditentukan oleh bagaimana peserta membawa pulang pengetahuan dan mengimplementasikan gagasannya.
Menjaga Ide Tetap Sederhana dan Bisa Dijalankan
Dalam mendampingi peserta, Akbar menekankan pentingnya merancang proyek yang tidak hanya menarik sebagai gagasan, tetapi juga realistis untuk diterapkan dan memiliki peluang untuk terus berjalan. Ia menyampaikan tiga komponen yang menjadi perhatian dalam pengembangan ide, yakni sederhana, berkelanjutan, dan layak dilaksanakan.
“Kalau aku bilang tentang anak-anak yang hadir di sini gitu ya, mungkin yang aku simpulkan, mereka mau buat ide yang simple, sustainable, tapi feasible.” ujarnya.
Akbar menjelaskan, peserta tetap didorong untuk mengembangkan ide yang baik, tetapi perlu mempertimbangkan kemampuan pelaksanaan serta kebutuhan masyarakat yang akan menerima manfaatnya. Dengan begitu, proyek yang dirancang tidak berhenti sebagai konsep, melainkan memiliki peluang untuk diwujudkan.
“Teman-teman boleh buat ide bagus, tapi kalau bisa, ini simple, ini bisa sustain, ini tapi feasible, dan ini bisa mencakup seluruh aspek tatanan sosial yang terdampak dan membutuhkan,” kata Akbar.
Prinsip tersebut juga menjadi bekal bagi peserta dalam mempersiapkan pitching day, yakni kesempatan untuk mempresentasikan ide inisiatif yang dikembangkan selama program. Menurut Akbar, skala gagasan tidak harus besar sejak awal. Hal yang lebih penting adalah memastikan ide tersebut sesuai kebutuhan, dapat dijalankan, dan memiliki keberlanjutan.
“Nggak apa-apa simple, tapi bisa feasible untuk diimplementasikan. Dan harapnya juga itu bisa memberikan dampak besar untuk wilayah. Walaupun itu small actions, tapi bisa sustain ke depannya,” tuturnya.
Menyatukan Perspektif di Tengah Keberagaman
Mendampingi peserta dengan latar belakang yang beragam juga menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan daerah asal, budaya, logat, karakter, dan cara pandang perlu dikelola agar setiap peserta dapat berpartisipasi dengan nyaman dan saling menghargai selama proses pembelajaran.
Akbar mengungkapkan bahwa salah satu upaya yang dilakukan sejak sesi awal adalah menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan tersebut menjadi landasan bersama agar peserta dapat menghormati perbedaan dan membangun suasana diskusi yang kondusif.
“Kalau dari segi tantangan, mungkin pertama kita harus bisa menyatupadankan perspektif. Karena mereka datang dari beragam daerah, logat, budaya, keselarasan,” jelasnya.
Ia menilai, kesepakatan untuk saling menghormati menjadi bagian penting dalam menjaga dinamika kelompok. Setiap peserta perlu mendapat ruang untuk menyampaikan pandangan, sekaligus belajar memahami perspektif orang lain.
“Makanya tujuan kita kemarin di sesi 1, kita buat kesepakatan kelas untuk anak-anak saling respect, antar budaya, cara sudut pandang, menghargai satu sama lain dalam aspek apapun itu. Makanya itu yang mungkin ditekankan, karena kita mungkin tahu juga dari segi watak, logat, sifat itu berbeda-beda.” ujar Akbar.
Bagi Akbar, suasana kelas yang saling menghargai merupakan fondasi agar gagasan dapat tumbuh melalui dialog dan kerja sama. Perbedaan tidak seharusnya menjadi penghambat, tetapi perlu dikelola agar peserta dapat berkolaborasi untuk menemukan solusi bagi persoalan di daerah masing-masing.
“Dan juga ide yang digagas, tidak datang dari adanya masalah dalam kelas, tapi datang dari adanya solidaritas di dalam kelas,” tambahnya.
Berharap Dampak Berlanjut
Wirasena Youth Camp 2026 dirancang untuk mendampingi peserta melalui tiga fase, yaitu Bertumbuh, Bergerak, dan Berdampak. Bagi Akbar, rangkaian tersebut perlu berlanjut pada implementasi proyek setelah peserta kembali ke daerah asal, sehingga pengetahuan dan pengalaman selama program dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata.
“Makanya itulah yang mungkin kita harapkan dari Wirasena Youth Camp, pesan yang sangat ditekankan adalah, dan sangat diharapkan, bisa sustain dan teman-teman juga bisa berdampak sepulang dari kegiatan ini. Karena jujur, memang teman-teman akan mengalami tiga fase dalam proyek ini. Fase bertumbuh, fase bergerak, dan fase berdampak,” katanya.
Ia juga berharap jejaring yang terbentuk selama program dapat terus berkembang. Peserta diharapkan mampu saling mendukung, menjalin kolaborasi lintas wilayah, bahkan berbagi pengetahuan dengan pemuda lain di daerah masing-masing.
Harapan tersebut sejalan dengan pesan yang diingat Akbar sejak pembekalan fasilitator: membawa cahaya perubahan ke seluruh Indonesia. Melalui pendampingan yang mendorong pemikiran kritis, penghargaan terhadap keberagaman, dan perancangan proyek yang realistis, fasilitator berperan membantu peserta mempersiapkan gagasan agar dapat diwujudkan di daerahnya.
Bagi Akbar, perubahan tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Gagasan sederhana yang sesuai kebutuhan masyarakat, dapat dilaksanakan, dan dijaga keberlanjutannya tetap memiliki peluang untuk menghadirkan dampak. Dari ruang belajar Wirasena Youth Camp 2026, harapannya, semakin banyak pemuda membawa pulang gagasan dan menyalakan cahaya perubahan di daerah masing-masing.
Dari Ruang Kelas ke Daerah, Fasilitator Wirasena Youth Camp Ingin Sebarkan Cahaya Perubahan
Dalam sebuah ruang belajar yang mempertemukan pemuda dari berbagai daerah, fasilitator memegang peran penting untuk merawat diskusi, menyatukan perspektif, dan membantu gagasan berkembang menjadi inisiatif yang dapat diterapkan di masyarakat. Peran itu dijalankan Akbar dalam program Wirasena Youth Camp 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.
Akbar, yang merupakan alumni program ASEAN Youth United di Thailand, dipercaya mendampingi peserta di ruang kelas 4. Kelompok tersebut terdiri dari pemuda yang berasal dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, serta perwakilan organisasi kepemudaan.
Bagi Akbar, kesempatan menjadi fasilitator dalam program Wirasena Youth Camp 2026 memberinya pengalaman untuk menyaksikan langsung beragam potensi dan harapan pemuda dari berbagai wilayah Indonesia. Ia menilai, kegiatan ini membuka ruang bagi peserta untuk membawa pengalaman, keberanian, serta gagasan dari daerah masing-masing, kemudian mengembangkannya melalui pertukaran pikiran dan kolaborasi.
“Yang aku bisa bilang kegiatan ini sangat luar biasa, berdampak besar. Untuk kita bisa melihat banyak ternyata harapan dari berbagai daerah,” ujar Akbar.
Menyalakan Cahaya hingga ke Daerah
Salah satu hal yang membekas bagi Akbar berasal dari pesan yang disampaikan saat pembekalan fasilitator atau Training of Trainer (ToT). Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan kapasitas pemuda perlu menjangkau berbagai wilayah, bukan hanya terpusat di ibu kota.
“Aku masih ingat banget, ada satu quote ketika kita kemarin TOT, atau Training of Trainer. Ada satu quote yang berbunyi, kita hanya tidak ingin menyalakan lampu di Jakarta. Tapi kita ingin membawa banyak cahaya di daerah di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Pesan itu, menurut Akbar, tercermin dari keberagaman peserta yang datang dari Sumatra, Sulawesi, Papua, Jawa, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Setiap peserta membawa latar belakang serta pengalaman berbeda yang dapat menjadi modal untuk merancang gagasan sesuai kebutuhan daerahnya.
“Aku sangat senang, kenapa? Karena Kemenpora, mungkin baru kali ini menginisiasi proyek sebagus ini. Sebelumnya belum ada yang mengumpulkan anak-anak lewat seleksi ya, untuk datang ke sini, bawa ide, bawa gagasan, keberanian, pengalaman yang mereka punya,” kata Akbar.
Melalui proses tersebut, Wirasena Youth Camp 2026 diharapkan dapat mempertemukan pemuda dengan minat dan kepedulian yang beragam, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang berlanjut setelah program berakhir. Bagi Akbar, keberhasilan kegiatan tidak berhenti pada diskusi selama di kelas, tetapi juga ditentukan oleh bagaimana peserta membawa pulang pengetahuan dan mengimplementasikan gagasannya.
Menjaga Ide Tetap Sederhana dan Bisa Dijalankan
Dalam mendampingi peserta, Akbar menekankan pentingnya merancang proyek yang tidak hanya menarik sebagai gagasan, tetapi juga realistis untuk diterapkan dan memiliki peluang untuk terus berjalan. Ia menyampaikan tiga komponen yang menjadi perhatian dalam pengembangan ide, yakni sederhana, berkelanjutan, dan layak dilaksanakan.
“Kalau aku bilang tentang anak-anak yang hadir di sini gitu ya, mungkin yang aku simpulkan, mereka mau buat ide yang simple, sustainable, tapi feasible.” ujarnya.
Akbar menjelaskan, peserta tetap didorong untuk mengembangkan ide yang baik, tetapi perlu mempertimbangkan kemampuan pelaksanaan serta kebutuhan masyarakat yang akan menerima manfaatnya. Dengan begitu, proyek yang dirancang tidak berhenti sebagai konsep, melainkan memiliki peluang untuk diwujudkan.
“Teman-teman boleh buat ide bagus, tapi kalau bisa, ini simple, ini bisa sustain, ini tapi feasible, dan ini bisa mencakup seluruh aspek tatanan sosial yang terdampak dan membutuhkan,” kata Akbar.
Prinsip tersebut juga menjadi bekal bagi peserta dalam mempersiapkan pitching day, yakni kesempatan untuk mempresentasikan ide inisiatif yang dikembangkan selama program. Menurut Akbar, skala gagasan tidak harus besar sejak awal. Hal yang lebih penting adalah memastikan ide tersebut sesuai kebutuhan, dapat dijalankan, dan memiliki keberlanjutan.
“Nggak apa-apa simple, tapi bisa feasible untuk diimplementasikan. Dan harapnya juga itu bisa memberikan dampak besar untuk wilayah. Walaupun itu small actions, tapi bisa sustain ke depannya,” tuturnya.
Menyatukan Perspektif di Tengah Keberagaman
Mendampingi peserta dengan latar belakang yang beragam juga menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan daerah asal, budaya, logat, karakter, dan cara pandang perlu dikelola agar setiap peserta dapat berpartisipasi dengan nyaman dan saling menghargai selama proses pembelajaran.
Akbar mengungkapkan bahwa salah satu upaya yang dilakukan sejak sesi awal adalah menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan tersebut menjadi landasan bersama agar peserta dapat menghormati perbedaan dan membangun suasana diskusi yang kondusif.
“Kalau dari segi tantangan, mungkin pertama kita harus bisa menyatupadankan perspektif. Karena mereka datang dari beragam daerah, logat, budaya, keselarasan,” jelasnya.
Ia menilai, kesepakatan untuk saling menghormati menjadi bagian penting dalam menjaga dinamika kelompok. Setiap peserta perlu mendapat ruang untuk menyampaikan pandangan, sekaligus belajar memahami perspektif orang lain.
“Makanya tujuan kita kemarin di sesi 1, kita buat kesepakatan kelas untuk anak-anak saling respect, antar budaya, cara sudut pandang, menghargai satu sama lain dalam aspek apapun itu. Makanya itu yang mungkin ditekankan, karena kita mungkin tahu juga dari segi watak, logat, sifat itu berbeda-beda.” ujar Akbar.
Bagi Akbar, suasana kelas yang saling menghargai merupakan fondasi agar gagasan dapat tumbuh melalui dialog dan kerja sama. Perbedaan tidak seharusnya menjadi penghambat, tetapi perlu dikelola agar peserta dapat berkolaborasi untuk menemukan solusi bagi persoalan di daerah masing-masing.
“Dan juga ide yang digagas, tidak datang dari adanya masalah dalam kelas, tapi datang dari adanya solidaritas di dalam kelas,” tambahnya.
Berharap Dampak Berlanjut
Wirasena Youth Camp 2026 dirancang untuk mendampingi peserta melalui tiga fase, yaitu Bertumbuh, Bergerak, dan Berdampak. Bagi Akbar, rangkaian tersebut perlu berlanjut pada implementasi proyek setelah peserta kembali ke daerah asal, sehingga pengetahuan dan pengalaman selama program dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata.
“Makanya itulah yang mungkin kita harapkan dari Wirasena Youth Camp, pesan yang sangat ditekankan adalah, dan sangat diharapkan, bisa sustain dan teman-teman juga bisa berdampak sepulang dari kegiatan ini. Karena jujur, memang teman-teman akan mengalami tiga fase dalam proyek ini. Fase bertumbuh, fase bergerak, dan fase berdampak,” katanya.
Ia juga berharap jejaring yang terbentuk selama program dapat terus berkembang. Peserta diharapkan mampu saling mendukung, menjalin kolaborasi lintas wilayah, bahkan berbagi pengetahuan dengan pemuda lain di daerah masing-masing.
Harapan tersebut sejalan dengan pesan yang diingat Akbar sejak pembekalan fasilitator: membawa cahaya perubahan ke seluruh Indonesia. Melalui pendampingan yang mendorong pemikiran kritis, penghargaan terhadap keberagaman, dan perancangan proyek yang realistis, fasilitator berperan membantu peserta mempersiapkan gagasan agar dapat diwujudkan di daerahnya.
Bagi Akbar, perubahan tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Gagasan sederhana yang sesuai kebutuhan masyarakat, dapat dilaksanakan, dan dijaga keberlanjutannya tetap memiliki peluang untuk menghadirkan dampak. Dari ruang belajar Wirasena Youth Camp 2026, harapannya, semakin banyak pemuda membawa pulang gagasan dan menyalakan cahaya perubahan di daerah masing-masing.


















